Contact us

LEADERS ARE HUMANS

Huddle DF-DL Oktober 2020
Hari-hari ini kita berhadapan dengan berbagai masalah dan tantangan yang skalanya belum pernah kita hadapi sebelumnya. 

Kita berhadapan dengan:
  • Penyakit yang belum pasti kapan ada vaksinnya
  • Berkurangnya gaji atau pendapatan bulanan
  • Hilangnya pekerjaan atau lesunya bisnis di beberapa industri 
  • Komplikasi dinamika bekerja, belajar, beribadah & melayani dari rumah
  • Kehilangan orang-orang terdekat
  • Ketidakpastian lain yang timbul karena pandemi 
Dunia dengan segala tekanan untuk menampilkan kesempurnaan membuat manusia lebih mudah untuk mencitrakan kesuksesan, namun lebih sulit untuk menceritakan kelemahan atau kepedihan.

Sebuah pepatah Swedia berkata bahwa "Joy is doubled and sorrow is halved when shared"  - Swedish Proverb.
Kebahagiaan digandakan & kesedihan diringankan ketika diceritakan. 

Itu sebabnya Alkitab mengajarkan sebuah perilaku yang dibiasakan dalam proses memuridkan dan dimuridkan: 

Confess to one another therefore your faults (your slips, your false steps, your offenses, your sins) and pray [also] for one another, that you may be healed and restored [to a spiritual tone of mind and heart]. The earnest (heartfelt, continued) prayer of a righteous man makes tremendous power available [dynamic in its working]. 
‭‭James‬ ‭5:16‬ ‭AMPC‬‬

Itu sebabnya kamu saling mengaku kesalahanmu, ketidaksengajaanmu, langkah yang salahmu, kekecewaanmu, dosa/pelanggaranmu dan juga saling mendoakan, supaya kamu sembuh dan pulih dalam pikiran dan hatimu. Doa yang sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan berkelanjutan dari orang benar membuat kuasa Tuhan yang luar biasa tersedia dan bekerja untuknya.

Semakin kita terbuka ke tingkat yang lebih dalam, Roh Kudus semakin mudah bekerja untuk menyembuhkan & memulihkan hidup kita, dan memimpin hidup kita.

Berani mengakui kekurangan justru adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan.
Hanya orang yang memiliki rasa aman & paham tentang identitas dirinya yang bisa menjadi rentan dan terbuka tentang kekurangan dan pertolongan yang ia butuhkan.
  
Yesus sendiri memiliki momen-momen kerentanan dalam hidupnya yang dicatat di Alkitab. 
Matius 26:38 | di taman Getsemani, Yesus berkata kepada murid-murid kesayangan-Nya ”Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”
Matius 26:39 | Yesus lalu sujud & berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Yohanes 11:35 | Maka menangislah Yesus. 
Yohanes 19:28 | Aku haus! 
Matius 27:46 | Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ”Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Agar terjadi kerentanan & keterbukaan, kita selalu mulai dengan Penerimaan.
Standarnya yaitu bagaimana Kristus telah menerima kita.
“Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” ‭‭Roma‬ ‭15:7‬ ‭TB‬‬
Orang yang sudah diterima tanpa syarat oleh Kristus akan menerima orang lain tanpa syarat juga

Penerimaan adalah awal dari Keterbukaan.
  • Hubungan lebih penting kehadiran. 
  • Maklumi jika ada yang enggan untuk ikut online DATE karena mereka mengalami keletihan virtual. 
  • Virtual fatigue yang bisa membuat orang menjadi zoombie. Yekan? 
Keterbukaan adalah awal dari Perubahan Hidup. 
  • Tanpa penerimaan, orang enggan untuk terbuka tentang dirinya, tentang kelemahannya, tentang tantangan yang sedang dialami, atau pertolongan yang dibutuhkan. 
  • Itu sebabnya penerimaan adalah seperti jembatan yang akan terus memelihara hubungan. 
  • Di saat rasanya kita kesal atau frustasi terhadap seseorang, ingatlah bahwa “Jangan bakar jembatannya, tapi bakar ego kita sendiri” karena kita tidak akan pernah tahu kapan orang ini akan membutuhkan pertolongan Tuhan melalui kita. 
Keterbukaan kita kepada orang lain tidak hanya baik buat diri kita, namun juga bagi orang lain yang mendengarnya. 

Matthew‬ ‭5:16‬ ‭MSG‬‬
Keep open house; be generous with your lives. By opening up to others, you’ll prompt people to open up with God, this generous Father in heaven.
Keterbukaan kita kepada orang lain akan memicu keterbukaan mereka kepada Tuhan. 

Waktu kita belajar terbuka tentang diri kita, pemulihan kita & pemulihan orang lain mulai terjadi. Karena sejak awal Tuhan menciptakan manusia menjadi makhluk Kita, bukan makhluk Aku. 
‭‭Kejadian‬ ‭1:26‬
Berfirmanlah Allah: ”Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”‭‬‬
Tuhan menciptakan kita untuk mengalami kasih dan campur tangan Tuhan melalui orang-orang yang ada di sekitar kita, termasuk mereka yang ada di DATE/Huddle kita. 

Itu sebabnya saya juga setuju dengan apa yang Ps. John Maxwell katakan:
"If you want to impress people, talk about your successes. If you want to impact people, share your failures." -John C. Maxwell

Sebagai pemimpin, kita perlu terus mengingat bahwa sebenarnya tidak ada yang menuntut kita untuk menjadi sempurna. Karena kita adalah manusia yang tidak sempurna, yang membutuhkan kasih dan anugerah yang sempurna dari Kristus. 

Justru momen-momen terendah dalam hidup kita bisa menjadi sarana untuk Tuhan berkarya di dalam kita DAN melalui kita. 

Seperti yang dikatakan oleh Ps. Rick Warren:
"Other people are going to find healing in your wounds. Your greatest life messages and
your most effective ministry will come out of your deepest hurts." -Rick Warren
Orang lain akan menemukan kesembuhan dari luka-lukamu. Pesan hidup terbesarmu dan pelayanmu yang paling efektif akan keluar dari rasa sakit terdalammu. Dalem!

Di beberapa waktu belakangan terakhir, saya mengalami momen-momen yang mendewasakan saya. 
  • Saya lebih sumbu pendek terhadap Mia & Rayya-Tiara.
  • Saya pikir itu berakar dari kekecewaan saya terhadap beberapa orang & Tuhan yang belum tuntas.
  • Saya mulai belajar untuk mengakuinya kepada beberapa teman.
  • Saya memberanikan diri untuk mengakui tentang amarah saya ketika diundang seorang pakar psikologi untuk melakukan IG Live dengan beliau. 
  • Kedua tindakan saya itu ternyata memudahkan proses pemulihan saya pribadi. 
  • Beberapa hari setelah itu sampai hari ini, saya menjadi lebih jarang marah (meski ada residunya sesekali) namun saya merasa jadi tidak ada alasan lagi untuk menyimpan amarah terhadap siapa pun. 
Saya akan akhiri dengan ayat berikut ini..
Efesus 4:31-32 (BIMK)
Hilangkanlah segala perasaan sakit hati, dendam dan marah. Jangan lagi berteriak-teriak dan memaki-maki. Jangan lagi ada perasaan benci atau perasaan lain semacam itu. Sebaliknya, hendaklah kalian baik hati dan berbelaskasihan seorang terhadap yang lain, dan saling mengampuni sama seperti Allah pun mengampuni kalian melalui Kristus.

PERTANYAAN DISKUSI:
Untuk menindaklanjuti materi yang disampaikan tadi, berikut instruksi pertanyaan untuk Saudara diskusikan dengan setiap DATE Leader yang hadir (dalam kelompok yang berisi 3-4 orang, mungkin bisa menggunakan Zoom breakout room):
  1. Adakah orang di DATE (tidak perlu sebut peran/statusnya di DATE) atau di luar DATE yang pernah atau cukup sering membuat saudara kesal atau sulit untuk menerima dia? Ceritakan.
  2. Dalam skala 1-10, seberapa terbukakah saudara kepada DATE Member atau DATE Facilitator atau Head DATE Facilitator saudara? Ceritakan.
  3. Ceritakan satu kesalahan, ketidaksengajaan, langkah-langkah yang salah, kekecewaan, pelanggaran Saudara, dan pelajaran apa yang Saudara dapatkan?
Tautan Umpan Balik Huddle Meeting Guideline
Share by: