DATE MEETING GUIDELINE
DATE adalah komunitas di JPCC yang memuridkan anggotanya (Discipled), menerima apa adanya (Accepted), dipimpin Roh Kudus (Anointed), dilatih tujuan hidupnya (Trained), dan diperlengkapi Firman Tuhan (Equipped). Komunitas DATE yang sehat ditandai dengan perubahan hidup pemimpin dan anggotanya yang semakin menyerupai Kristus serta melahirkan pemurid berikutnya. Dalam pelaksanaannya, DATE menggunakan model Sermon-Based Small Groups, yaitu diskusi kelompok kecil yang berbasis pada khotbah di ibadah Minggu.
PREPARE & PRAY
Sebelum Saudara memulai pertemuan DATE reguler dan memfasilitasi diskusi, persiapkan diri Saudara dengan membaca DATE Meeting Guideline dan Berdoa agar Roh Kudus bekerja untuk mengubahkan setiap orang yang hadir.
"Persiapan adalah ekspresi dari IMAN."
Gemuk & Segar
Tema Flourish menegaskan kerinduan Tuhan bagi umat-Nya: hidup yang bertunas, mekar, dan penuh buah. Namun kita hidup di tengah dunia yang lelah, banyak orang terlihat baik-baik saja, produktif, bahkan rohani, tetapi di dalamnya kering dan kehabisan tenaga. Karena itu, flourish bukan sekadar tema tahunan, melainkan undangan Tuhan untuk seluruh kehidupan.
Mazmur 92 menegaskan bahwa bukan orang yang sibuk, bertalenta, atau pintar yang akan bertunas, melainkan orang benar, mereka yang hidup dalam kebenaran Kerajaan Allah dan tertanam dalam hadirat-Nya. Di minggu-minggu sebelumnya, kita belajar bahwa kita dibenarkan oleh karya Kristus, dan kita bertumbuh ketika kita tertanam dalam ekosistem Tuhan: Firman, Roh Kudus, Gereja, dan kehidupan penyembahan.
Struktur Mazmur 92 sangat jelas: orang benar ditanam → bertunas (flourish) → tetap berbuah sampai tua → tujuannya memberitakan bahwa Tuhan itu benar. Berbuah secara Alkitabiah berarti life expressing life, yaitu kehidupan dari Tuhan yang mengalir melalui manusia. Karena itu, flourish bukan bahasa momen atau musim, melainkan bahasa kehidupan.
Ketegangan muncul ketika kita menyadari bahwa dunia, terutama generasi muda takut untuk menua. Kita hidup dalam tekanan untuk terus produktif, relevan, dan menghasilkan. Selama ada hasil, kita merasa hidup bermakna, namun ketika hasil melambat, kita merasa kosong. Banyak orang Kristen akhirnya burnout, bukan karena tidak mengasihi Tuhan, tetapi karena berusaha “menghasilkan buah” dengan kekuatan sendiri.
Firman Tuhan memberikan visi yang berbeda: “Pada masa tua pun mereka masih berbuah.” Alkitab penuh dengan contoh orang-orang yang dipakai Tuhan di usia lanjut. Menjadi tua bukan berarti pensiun rohani. Metafora pohon kurma menegaskan tentang konsistensi keberbuahan, bahkan buah terbaik dihasilkan di usia matang. Musim yang berbeda menghasilkan tingkat kemanisan yang berbeda, tetapi kehidupan tetap mengalir.
Mazmur memakai frasa yang kuat: “menjadi gemuk dan segar.” Dalam terjemahan lain: full of sap and green. Getah atau sap melambangkan kehidupan yang mengalir di dalam seperti darah dalam tubuh manusia. Tanpa getah, pohon akan mati meski tampak kuat dari luar. Daun yang hijau adalah hasil dari kehidupan yang sehat di dalam. Flourishing sejati bukan soal penampilan luar, tetapi tentang kehidupan yang terus mengalir dari dalam. Sedangkan warna hijau atau green menggambarkan banyak orang terlihat hijau dan aktif, bahkan rohani, tetapi sebenarnya kering dan lelah di dalam. Karena itu, yang terpenting bukan menjaga image luar, melainkan memastikan ada kehidupan Kristus yang nyata di dalam. Orang yang hidupnya penuh getah tetap lembut hatinya, mau dibentuk Tuhan, responsif, dan haus akan kebenaran.
Ada perbedaan antara producing fruit dan bearing fruit. Alkitab tidak berkata orang benar memproduksi buah, tetapi berbuah. Berbuah bukan hasil tekanan, usaha, dan performa manusia, melainkan aliran kehidupan dari sumber yang hidup. Yesus berkata, “Akulah pokok anggur.” Buah tidak pernah dimulai dari cabang, melainkan dari sumbernya. Buah bukan tanggung jawab kita; tinggal terhubung dengan Kristus adalah tanggung jawab kita. Ketika kita melekat pada Yesus, kehidupan-Nya mengalir dengan sendirinya dan menghasilkan buah.
Flourish tidak dibangun lewat hype, momen besar, atau intensitas sesaat, tetapi lewat kedalaman yang dibangun secara konsisten. Semakin dalam akar, semakin kuat pohon, dan semakin besar kehidupan yang mengalir. Kita dipanggil untuk membangun kedalaman dalam relasi dengan Tuhan, karakter yang dibentuk di tempat tersembunyi, dan hubungan-hubungan yang sehat dan membangun.
Yesus menunjukkan bahwa hidup bukan tentang panjang usia, melainkan tentang dari mana kehidupan itu mengalir. Seluruh hidup-Nya tertanam dalam kehendak Bapa. Melalui salib dan kebangkitan-Nya, kita dibenarkan dan diberi hidup yang baru, hidup yang tidak sekadar bertahan, tetapi bertumbuh, berbuah, dan tetap gemuk dan segar sampai usia tua.
Hidup kita bisa
flourish bukan karena kehebatan kita, tetapi karena kita melekat kepada Yesus, Sang Sumber kehidupan.
QUOTES:
Hidup kita bisa flourishing bukan karena kekuatan atau kehebatan kita, tetapi karena kita melekat pada Yesus, Sang Sumber kehidupan.
SUPPORTING VERSES:
Mazmur 92:13-16 (TB), Yohanes 15:1-8 (TB)
PERTANYAAN DISKUSI OIA:
Mari menggali firman Tuhan dan semakin mengenal Dia dengan pertanyaan OIA (Observasi, Interpretasi, Aplikasi). Saudara dapat memilih/menyesuaikan
Pertanyaan Pembuka:
- Satu hal apa yang berbicara secara pribadi kepada Saudara dari khotbah minggu lalu?
- Mengapa hal tersebut berbicara secara pribadi dalam hidup Saudara?
- Bagaimana rencana tindak lanjut Saudara setelah belajar dari khotbah minggu lalu?
Latihan OIA - Yohanes 15:1-8 TB
1. Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.
2. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.
3. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.
4. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
5. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
6. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.
7. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
8. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”
Konteks:
Yohanes 15 adalah bagian dari "Pidato Perpisahan" Yesus kepada murid-murid-Nya sesaat sebelum Ia ditangkap. Mereka sedang berjalan dari ruang perjamuan terakhir menuju Taman Getsemani, melewati kebun-kebun anggur yang menjadi pemandangan umum di Yerusalem. Dengan menyebut diri-Nya sebagai "Pokok Anggur yang Benar", Yesus sedang memberikan identitas baru yang radikal. Sebelumnya, dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel sering digambarkan sebagai kebun anggur Allah yang gagal berbuah (Yesaya 5:1-7). Yesus menegaskan bahwa kini sumber kehidupan spiritual dan keberhasilan sejati tidak lagi ditentukan oleh identitas keagamaan atau keturunan bangsa, melainkan oleh hubungan pribadi yang intim dengan diri-Nya sendiri.
Observasi:
- Sebutkan tiga tokoh utama dalam perumpamaan ini dan apa peran masing-masing menurut ayat 1 dan 5?
- Menurut ayat 2, ada dua perlakuan Sang Pengusaha Kebun (Bapa) terhadap ranting. Apa perbedaan perlakuan terhadap ranting yang tidak berbuah dan yang sudah berbuah?
- Perhatikan ayat 4 dan 5. Berapa kali kata "tinggal" disebutkan? Apa yang dikatakan Yesus tentang kemungkinan ranting berbuah di luar Pokok Anggur?
Interpretasi:
- Yesus menyebut diri-Nya sebagai "Pokok Anggur yang Benar". Mengapa kita perlu melekat pada Pokok yang benar? Menurut Saudara, apa saja "pokok anggur palsu" di dunia ini yang sering kita jadikan tempat mencari sumber kehidupan?
- Jika berbuah adalah akibat dari "tinggal di dalam Kristus", menurut Saudara apa yang sebenarnya dimaksud dengan "buah" dalam hidup orang Kristen? (Lihat kaitan antara ayat 7 dan 8).
- Mengapa ranting yang sudah berbuah tetap harus "dibersihkan/dipangkas"? Apa bedanya "dipangkas oleh Bapa" dengan "dihukum karena dosa"?
Relevansi:
Di zaman yang menjunjung tinggi produktivitas dan hasil instan (hustle culture), perikop Yohanes 15:1-8 ini sangat relevan sebagai solusi atas kelelahan mental dan spiritual. Seringkali orang Kristen saat ini terjebak dalam usaha "menghasilkan buah" (kesuksesan, citra diri yang baik, pelayanan yang sibuk, dll) dengan kekuatan sendiri, yang sering kali berujung pada kekosongan, kekeringan bahkan burnout. Perikop ini mengingatkan kita bahwa Flourish bukan ditentukan oleh seberapa keras usaha kita, melainkan oleh seberapa dalam kita berakar dan beristirahat dalam Kristus. Pertumbuhan karakter dan dampak yang terus-menerus, hanya bisa terjadi jika kita berhenti mengejar hasil dan mulai memprioritaskan kedekatan dengan Sumbernya.
Aplikasi:
- Self-Check: Saat ini, apakah Saudara merasa sedang "berjuang keras menghasilkan buah" (lelah, stres, takut gagal, burnout) atau sedang "menikmati proses melekat" (berserah, percaya dan mengandalkan Tuhan)? Apa perbedaannya dalam keseharian Saudara?
- Abiding Practice: Apa satu penghambat utama yang paling sering membuat kualitas hubungan Saudara dengan Sang Pokok Anggur menurun (misal: gadget, kekhawatiran, kesibukan, dll)? Langkah praktis apa yang akan Saudara ambil minggu ini untuk terus melekat kepada Kristus?
- Surrender: Adakah sesuatu yang sedang Bapa "pangkas" dari hidup Saudara (kenyamanan, rencana pribadi, dll) agar lebih lagi berbuah? Bagaimana caranya agar Saudara memiliki hati yang rela diproses?
Catatan:
Saudara dapat memilih beberapa pertanyaan di atas sesuai kebutuhan pada saat memfasilitasi diskusi di dalam DATE, tidak harus menanyakan semua pertanyaan.
Classes for You
Sambut tahun yang baru dengan hal-hal baru untuk dipelajari! JPCC menyediakan berbagai kelas online bagi jemaat, yang dapat diikuti melalui tautan learning.myjpcc.org. Ikuti Plant Class bila Saudara ingin belajar akan dasar kekristenan. Selain itu, ada Serve Class bagi Saudara yang ingin dipersiapkan untuk melayani di JPCC. Ada juga berbagai kelas lainnya seperti kelas Parenting, Child Dedication, Baptism, dan lain-lain. Mari belajar dan bertumbuh lebih lagi!
New Service Time for Star Class!
Dear Parents, mulai hari Minggu, 18 Januari 2026, akan tersedia ibadah JPCC Kids Star Class (Special Needs) di Service 3 pada kampus Sutera Hall. Penambahan ibadah ini tersedia di pkl. 11.45. Lihat cara pendaftaran ibadah selengkapnya pada tautan: jpcc.org/joinsundayservice
College Gathering
Masa depan kamu tidak dibangun dalam semalam. Dan mungkin kamu belum sadar, tapi setiap hal kecil yang kamu lakukan hari ini sedang membentuk siapa kamu nanti. Penasaran langkah kecil apa saja yang sebenarnya berarti? Yuk, cari tahu lebih lanjut di College Gathering, “Tomorrow Starts Today”. Hari Minggu, 25 Januari 2026 pkl. 14.00 di Youth Hall (Sutera Hall), untuk usia 18–22 tahun. Daftar lewat MyJPCC App – Events tanggal 11-25 Januari 2026. See you there!
Cancer Support Group
Perasaan cemas, takut akan pengobatan dapat melemahkan imunitas tubuh melawan kanker. Cancer Support Group (CSG) adalah kelompok kecil yang memberikan pendampingan serta dukungan emosional dan spiritual bagi jemaat maupun keluarga/kerabat yang sedang berjuang melawan kanker. Dalam komunitas ini, peserta dapat berbagi dengan aman, saling menguatkan, dan menerima penghiburan iman. Pendaftaran dibuka pada 1–25 Januari 2026 di MyJPCC App.
Yakobus 5:16 TB
“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”
Ajak setiap anggota DATE untuk berbagi pokok doa yang spesifik agar dapat didoakan bersama. Setelah itu, luangkan waktu untuk berdoa bagi kesejahteraan kota Jakarta dan Tangerang, memohon perlindungan dan damai sejahtera bagi masyarakat. Doakan juga bangsa dan negara Indonesia, serta para pemimpin di pemerintahan pusat maupun daerah, agar diberikan hikmat dalam mengambil keputusan yang selaras dengan kehendak Tuhan.





